RSS

Bermain di Bawah Terang Bulan

15 Dec
Bermain di Bawah Terang Bulan

Aku termasuk anak yang beruntung, tinggal disebuh desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan masih sangat kental di lingkungan ini. Ada kebiasaan yang unik di kampung  saat itu. Anak laki-laki (ada juga sebagian perempuan), mereka tidak tidur di rumahnya, tetapi bersama teman-teman sebayanya tidur di mushola, masjid, ataupun rumah tinggal seorang warga. Mereka secara berkelompok menjadi seperti geng (bukan berkonotasi negatif), yang beraktivitas bersama.

Sejak kelas 3 SD saya sudah jarang sekali tidur dirumah. Kegiatan biasanya dimulai sejak maghrib dengan mengaji ke salah seorang ustadz kampung, setelah itu sholat isya’ di majid, dan kemudian menuju tempat biasanya kita tidur (mushola, atau rumah warga). Banyak kegiatan yang kami lakukan, baik belajar bersama atau hanya sekedar bermain saja. Mencari jangkrik di sawah adalah salah satu kesukaanku bersama teman-teman, untuk ditangkap, dan dipelihara. Senang rasanya mendengar nyanyian jangkrik dirumah setiap malam, seolah menjadi irama nada yang menemani aktivitas kami di malam hari. Kenakalan ala anak-anak kampung juga terkadang kami lakukan, seperti mengambil mangga tetangga, jambu, atau pisang disawah yang sudah saatnya matang, hanya untuk sekedar menjadi pengganjal perut.

Ada kegiatan yang paling kuingat dan paling menyenangkan, yaitu ketika bulan bersinar terang atau bulan purnama. Dibawah sinar rembulan, kami biasanya keluar rumah, melakukan kegiatan berbagai permainan. Beberapa teman perempuan, biasanya juga ikut serta. Ada petak umpet, gudir, bermain karet, atau hanya sekedar berlari-larian mencurahkan segala keceriaan. Rembulan yang tidak pernah absen menyapa kami setiap malam, menjadi saksi kesyukuran kami menikmati alam semesta ciptaan Tuhan dengan segala keindahannya.

Indahnya suasana malam purnama tak ingin kami lewatkan begitu saja. Hidup menjadi sangat menyenangkan bersama teman-teman sebayaku. Tak ada kebencian, tak ada pertengkaran, juga tak ada rasa takut atau was-was, yang ada hanyalah kesukariaan bersama. Susana menyenangkan, penuh kebersamaan dan kesetiakawanan, yang mungkin sangat langka bisa dinikmati oleh anak-anak kekinian. Bersyukurlah mereka yang pernah mengalami masa-masa kecil seperti yang saya alami, karena itulah romantisme yang sebenarnya, dan akan terkenang selalu selamanya.***

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 15, 2016 in Perjalanan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: