RSS

Berdoa Diatas Awan

31 Jul

Tanggal 12 Agustus 2010 adalah tanggal yang berkesan menjadi bagian dari perjalanan hidupku, karena pada hari itu aku meninggalkan Jakarta menuju New York, dan menempuh perjalanan hingga 24 Jam menggunakan pesawat. Ya, itulah pertama kali aku diberi kesempatan untuk melihat dunia luar yang lebih maju, lebih modern, dan mungkin lebih “bermartabat”. Hari itu semakin berkesan, karena pada hari itu aku harus pergi dengan membawa kekhawatiran karena anakku yang sedang sakit.

Hari itu bertepatan dengan hari pertama bulan ramadlan.Sehari sebelumnya Istriku telah mengemasi semua perlengkapan yang harus aku bawa, pakaian, sepatu, sendal, makanan, dan tidak lupa obat-obatan dan minuman sehat khas Indonesia (minyak kayu putih, procold, oskadon, diapet, tolak angin, bodrex, jahe, dll). Pada saat aku dan istriku mempersiapkan perlengkapan yang harus aku bawa, anakku yang kedua mengalami sakit. Dia muntah dan berak terus-menerus, bahkan berlangsung sampai pagi harinya.

Pagi harinya, kami cepat-cepat membawanya ke sebuah klinik yang dekat rumah, berharap penyakit anakku bisa segera disembuhkan, dan aku bisa berangkat ke New York dengan tenang. Terus terang, aku paling tidak tega jika melihat anak atau istriku sedang sakit, dan pasti itu dialami oleh hampir semua orang tua. Aku mau berbuat apapun asalkan mereka bisa segera disembuhkan. Siang itu, menjelang keberangkatanku aku merasa limbung, dan sepertinya hampir pingsan melihat anakku yang tergeletak lemas dan terus buang air. Akhirnya, atas saran istriku, akupun membatalkan puasa pada hari pertama puasa tersebut, agar bisa minum obat dan kuat dalam perjalanan nan jauh.

Jam 12.30 siang, akupun berpamitan dengan istri dan anak-anakku untuk pergi jauh, ke New York, dan untuk waktu yang tidak sebentar, yaitu 10 bulan. Berat rasanya kaki melangkah saat itu, harus pergi meninggalkan istri saat anakku sedang sakit. Sebelum ke airport aku ke kantor untuk berpamitan dengan teman-teman kantorku. Sepanjang jalan, hanya doa yang ku lafalkan, semoga anakku diberi kesembuhan segera. Doa juga aku lantunkan sepanjang perjalanan diatas pesawat dari Jakarta, transit di Singapura, lalu ke Jerman, dan dari Jerman baru ke New York.

Sesampainya di NY aku tidak bisa langsung berkomunikasi dengan istriku, hanya melalui FB saya mengirimkan pesan, bahwa sudah sampai di NY dengan selamat. Tidak lupa menanyakan perkembangan anakku yang sedang sakit saat aku tinggalkan. Alangkah senangnya mendapatkan kabar, anakku sudah lebih baik, dan tinggal menunggu penyembuhan.

Anak adalah bagian dari jiwaku, sakitnya juga sakitku. Kebahagiaannya juga kebahagianku. Ya Allah lindungi mereka, bimbing mereka, dan jadikan kami hambamu yang pandai bersykur, dan menaati jalanmu. Amin…

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 31, 2012 in Keluarga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: