RSS

Aku Ingin Seperti Pensil

18 May

Tadi malam aku akhiri jagaku dengan membaca sebuah novel karangan Paulo Coelho yang berjudul ‘Seperti Sungai yang Mengalir. Paulo menulis cerita-cerita pendek yang menarik dan inspiratif. Salah satu yang membuatku sangat berkesan adalah ungkapannya tentang filosofi ‘Pensil’. Pensil dengan kesederhanaannya ternyata menyimpan makna yang dalam tentang hakekat hidup. Ia menggambarkan sosok seseorang yang luar biasa. Ingin rasanya aku seperti pensil. Apa itu?

Pertama, pensil itu sanggup melakukan hal-hal besar, tetapi ia tidak pernah lupa bawa ada tangan yang selalu membimbing setiap langkahnya. Ya, itulah tangan Tuhan dengan segala kelembutan dan kasih sayangNya, membimbing setiap kita sesuai kehendakNya. Apalah kita, tanpa Dia!

Kedua, ketika sedang menggunakan pensil sesekali kita harus berhenti, dan merautnya kembali. Ketika diraut pensil itu pasti akan merasa sakit, tetapi setelah selesai pensil itu menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula manusia, kita harus belajar menanggung beban penderitaan, menghadapi kesulitan, menemui kesedihan, karena dengan proses itu akan menjadikan diri kita menjadi lebih baik. Setiap kesulitan akan membawa pelajaran bagi mereka yang mau bersyukur dan berpikir. Tuhan menyayangi dan mendidik hambanya dengan banyak cara.

Ketiga, pensil itu tidak pernah keberatan apalagi marah ketika kita akan menghapus menggunakan penghaspus segala kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Itu artinya, kita masih bisa memperaiki segala khilaf yang pernah kita lakukan, sehingga kita akan sampai pada yang benar. Orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, tetapi mereka yang salah dan mau memperbaiknya.

Keempat, yang paling penting dari sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang terbuat dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, keutamaan kita adalah apa yang ada di dalam jiwa dan batin kita, bukan apa yang secara kasat mata terlihat oleh orang lain.

Kelima, pensil itu akan selalu meninggalkan bekas. Itu artinya, setiap kita harus menyadari bahwa segala tindakan kita akan selalu berbekas, yang baik atau yang buruk. Untuk itu kita harus menyadarinya, sehingga kita akan mengetahui segala konsekwensi dari tindakan kita.

“Ya Allah bimbinglah aku menapaki jalanMu, menggapai ridloMu, untuk kemanusiaan dan semesta alam. Amin”.***

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 18, 2012 in Buku

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: