RSS

Melatih Kesabaran dan Kemandirian

15 May

“Man shobaro dhofiro”. Tak seorang santripun tidak tidak tahu lafal itu. Itu adalah kata-kata magic yang pertama kali dikenalkan kepada santri oleh kyai, guru, dan para senior, dan menjadi kata-kata yang selalu diulang-ulang dalam setiap kesempatan. Tidak hanya melafalkan, dalam keseharian hidup para santri mencerminkan kenyataan yang menuntut untuk selalu bersabar. Selain melatih kesabaran, kehidupan di dalam pesantren juga melatih setiap orang untuk lebih mandiri.

Aku tak punya pengalaman mencuci pakaian sebelumnya. Kakakku atau adik-adikku selalu mencuci pakaian keluargaku, termasuk pakaianku. Saat di pesantren, aku harus mencuci pakaian sendiri. Sebenarnya, ada jasa pencucian pakaian, dan banyak juga santri yang menggunakan jasa itu. Tapi rasanya uang saku yang diberikan oleh orang tuaku tidak mungkin cukup untuk membayarnya. Itulah belajar untuk mandiri yang pertama kali aku peroleh ketika mulai belajar di pesantren. Bahkan banyak santri yang baru berumur 5-10 tahun harus mencuci pakaian mereka sendiri.

Kesabaran tidak hanya untuk dilafalkan, tetapi untuk dihayati dan dilaksanakan. Menurutku, makan adalah arena melatih kesabaran yang luar biasa. Seperti orang pada umumnya, santri juga diberi makan 3 kali dalam sehari. Bedanya, untuk makan mereka harus mengantri. Karena sudah terbiasa mengantri, malu rasanya kalau harus menyela antrian, karena itu sama saja mengambil hak orang lain. Terkadang kesabaran kita semakin diuji, bukan hanya karena panjangnya antrian, tetapi setelah lama mengantri pada saat giliran kita mendapatkan jatah makanan, sayur, lauk, bahkan nasi sudah habis. Bagiku, makan tidak hanya mengenyangkan, tetapi mendidik kita menghargai makanan, bertoleransi dengan orang lain, dan melatih kesabaran.

Kesabaran dalam tidur. Apa hubungan sabar dengan tidur? bagiku, ketika di pesentren sangat erat hubungan antara tidur dan sabar. Setiap malam aku harus tidur bersama teman-teman sekamarku, yang berjumlah antara 30-40 orang. Mereka tinggal dan tidur di kamar yang sama yang ukurannya kira-kira 5 x 6 meter. Di kamar itu, setiap santri juga memiliki lemari pakaian. Kami harus tidur diantara kotak-kotak, dan mengatur agar seluruh anggota kamar kebagian tempat untuk istirahat. Bahkan, jika tidak kebagian tempat, atas kotakpun menjadi tempat tidur. Selain tempat yang sempit, jangan membayangkan kami tidur diatas kasur yang empuk. Karpet dan kerdus menjadi alas yang selalu menemani malam-malamku saat itu (aku yakin, saat ini pondok menyediakan tempat yang sangat layak bagi para santri). Tidur telah mengakrabkan kami, melatih kepekaan kami (banyak mereka yang tidur dibawah langit tanpa atap), dan tidur menjadikan kami lebih kuat dan sabar.

Sabar dalam belajar. Setiap aktivitas yang diikuti oleh para santri tidak lain adalah bagian dari proses belajar. Pagi hari aktivitasku dimulai menjelang sholat subuh, dimana semua santri harus berada di dalam masjid. Setelah sholat 5 waktu, aku dan seluruh santri dengan dibimbing oleh bagian penggerak bahasa belajar bahasa arab atau inggis (muhadatsah) selama kurang lebih 5 menit. Rutinitas ini secara tidak langsung menambah kemampuan para santri dalam berbahasa asing.

Setelah sholat subuh dan belajar bahasa, aku memiliki waktu luang sampai pukul 06.00 sebelum bersiap ke sekolah. Biasanya waktu pagi aku gunakan untuk belajar, jalan-jalan pagi, atau terkadang kembali tidur. Sebagian santri memilih menggunakan waktu pagi untuk berolahrga. Secara khusus, santri juga belajar dalam tatap muka dikelas yang diselenggarakan pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari santri harus sudah berada di kelas pada pukul 06.30 dan istirahat pagi untuk sarapan pada pukul 08.00-09.00. Jam 09.00-12.00 belajar di dalam kelas.

Belajar sore dimulai pukul 13.30 – 15.00 sebagai sarana praktek bagi siswa senior untuk mengajar. Pengalamanku mengajar juga aku peroleh ketika aku ikut dalam program ini. Selepas sholat ashar, santri bebas beraktivitas. Umumnya mereka menggunakan kesempatan itu untuk olahraga, atau kegiatan-kagiatan lain sesuai dengan minat masing-masing. Jam 5 sore, aku dan seluruh santri harus sudah berada di dalam masjid, untuk berdzikir atau membacara al quran. Setelah makan malam, semua santri harus keluar kamar dan belajar, yang tidur akan diberi ‘hadiah’ dari para guru pengawas. Setelah jam 10 baru semua santri boleh masuk kamar dan tidur malam.

Seluruh kegiatan adalah bagian dari belajar, dan untuk mengikutinya dibutuhkan kesabaran dan komitmen yang tinggi. Jika tidak, sanksi sudah menunggu bagi siapapun yang melanggar. Memang melelahkan, tetapi begitu banyak pelajaran yang aku dapatkan. Tarima kasih pondokku, terima kasih para guru-guruku.***

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 15, 2012 in Perjalanan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: