RSS

Belajar Memimpin dan Bertanggungjawab

14 May

Aku ingin mengutip sebuah kata-kata yang amat populer “pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari”. Kata-kata ini tepat kiranya untuk menggambarkan adanya kesadaran Pesantren Wali Songo tentang pentingnya peran pemuda hari ini, sehingga harus dipersiapan dengan baik untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Berdasarkan pengalamanku, seluruh proses kehidupan dalam rangka pembelajaran di pesantren tidak lain diorientasikan agar seseorang belajar memimpin dan pada saat yang sama belajar bertanggungjawab.

Kehidupan di pesantren dapat diibaratkan miniatur kehidupan di masyarakat, bahkan negara. Santri berasal dari etnik yang berbeda-beda, bahasa yang berbeda-beda, sifat yang berbeda-beda pula, bahkan strata sosial yang berbeda-beda. Mereka bercampur menjadi satu, tanpa dibeda-bedakan. Saat itu, kepemimpinan terendah adalah Pengurus kamar, dimana setiap kamar berjumlah antara 30 – 50 orang. Pengurus kamar dipegang oleh para santri Senior. Pengurus Kamar juga menjadi jenjang kepengurusan, untuk menjadi pengurus di level lebih atasnya. Pengurus kamar bertanggungjawab terhadap kegiatan dan pengawasan bagi anggota kamar. Seingatku, pada saat itu keseluruhan kamar berjumlah tidak kurang dari 30 kamar.

Di atas kamar ada Rayon/Komisariat yang membawahi beberapa kamar-kamar. Pengurus Rayon atau Komisariat dipimpin oleh ketua dan beberapa anggota. Ada 4 rayon atau komisariat yang dibentuk; Sunan Gunung Jati (untuk anak baru), Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, dan Sunan Giri. Pengurus Rayon dipilih oleh Pengurus kamar dan bertanggungjawab terhadap kegiatan di rayon/komisariat yang bersangkutan.

Kepengurusan di atas Rayon/Komisariat adalah Pengurus Pusat (populer juga disebut pengurus daerah). Ketua Pengurus Pusat dipilih dalam sebuah rapat umum yang dihadiri oleh perwakilan rayon untuk masa kerja 1 tahun. Ketua umum terpilih berhak mengangkat orang-orang yang duduk di kepengurusan. Pengurus Pusat (pengurus daerah) bertanggungjawab terhadap seluruh kegiatan yang dilaksanakan bagi santri. Seingatku Pengurus Pusat ini terdiri dari beberapa Dapartemen; Pendidikan dan Bahasa, Penerangan, Kesehatan, Dakwah, Tamu, dan Keamanan. Selain itu ada badan otonom yaitu Kepramukaan.

Diluar struktur diatas, ada juga kepengurusan kelompok-kelompok santri yang bersifat khusus, baik berbasis kedaerahan, atau peminatan dalam kegiatan tertentu. Dengan kata lain, begitu banyak area sebagai ajang pembelajaran bagi para santri untuk menjadi pemimpin dan bertanggjawab atas kepemimpinannya. Mungkin terlihat sepele, tetapi itu adalah pengalaman yang luar biasa, bagaimana seseorang belajar untuk mengkordinir orang lain, dan memutuskan hal-hal penting.

Pengalamanku pertama kali diberi tanggungjawab adalah dalam kegiatan Pramuka. Saat itu aku masih kelas I exp, dan mengikuti kegiatan Perkajum (Perkemehan Kamis Jumat). Aku ditunjuk sebagai ketua regu yang bertugas mengkoordinir anggota regu yang berjumlah kurang lebih 15 orang. Pengalamanku berikutnya adalah terpilih sebagai ketua Kulliyatul Muballighin Al Islamiyah, yaitu suatu komunitas khusus dibawah bimbingan Bagian Dakwah bagi santri-santri yang ingin menjadi orator-orator (pendakwah) ulung. Cukup banyak anggotanya, dan banyak pengalaman berharga selama menjadi ketua komunitas ini. Aku juga pernah diangkat sebagai anggota penggerak bahasa yang bertugas membimbing santri meningkatkan kemampuan bahasa, dan sekaligus mengawasi penggunaan bahasa inggris dan arab oleh Santri. Aku juga menjadi pengurus konsulat Jawa Tengah dimana anggotanya adalah santri-santri yang berasal dari Jawa Tengah. Pengurus konsulat biasanya mengkoordinir kepulangan para santri pada saat liburan, dan membantu anggota yang harus dirawat karena sakit. Pengalamanku terkakhir di menjadi pengurus adalah sebagai Ketua Departemen Dakwah Pengurus Pusat. Di bidang ini aku dan beberapa teman lain (zainal, suprayitno, mu’min, agus) bertanggungjawab dalam kegiatan ibadah santri (sholat berjamaah, mengaji, dll) dan juga latihan pidato alias muhadhoroh (bahasa inggris dan bahasa Indonesia).

Menurutku ada sesuatu yang unik setiap pengangkatan seseorang menjadi pengurus, apapun itu. Ada prosesi persidangan yang biasanya seseorang yang akan diangkat dianggap melakukan kesalahan tertentu, dan pada akhirnya diangkat sebagai pengurus. Drama pembentakan, bahkan terkadang sedikit pukulan. Pada saat itu aku duduk di kelas V. Setelah usai sholat dzuhur, tiba-tiba namaku terdengar tercantum dalam panggilan ke bagian bahasa di Pengurus Pusat. Biasanya, mereka yang dipanggil adalah mereka yang telah melakukan pelanggaran berat. Akupun datang, dan disidang karena dianggap melakukan kesalahan. Aku sendiri tidak tahu apa kesalahanku, pada akhirnya akupun diberi tahu kalau aku diangkat sebagai pengurus bahasa di Sunan Giri.

Prosesi yang kurang lebih sama juga aku alami tatkala aku akan diangkat sebagai pengurus kamar dan pengurus pusat. Ketua Umum Pengurus Pusat sudah terpilih, dan tidak lama lagi akan disusun pengurus dan dilanjutkan pelantikan. Menjelang pelantikan itu biasanya prosesi penjemputan orang yang akan diangkat sebagai pengurus dilakukan. Ada sebagian orang yang ingin (berambisi) menjadi pengurus, berharap dirinya mendapatkan jatah penjemputan itu, dan masuk dalam jajaran kepengurusan.

Malam itu aku tertidur lelap. Kira-kira jam 1 malam saya dibangunkan oleh seseorang (aku lupa namanya), dan aku diminta untuk ikut dia ke kantor pengurus pusat. Disana sudah berkumpul beberapa orang yang lain. Sudah seperti biasa drama itu dimulai, bahwa kami ditudah melakukan pelanggaran dan diminta untuk mengaku apa pelanggaran  kami. Pada saat itu aku sudah menyangka, bahwa itu hanyalah prosesi untuk diangkat sebagai pengurus pusat. Terbukti. Akhirnya mereka memberitahu, bahwa kami akan diangkat sebagai pengurus pusat dan akan ikut dalam pelantikan.

Belajar berorganisasi, sekecil apapun ruang lingkupnya, adalah proses pembelajaran yang akan bermanfaat, khususnya untuk meningkatkan kepercayaan diri. Melalui proses ini kita belajar bagaimana menghadapi orang lain, bernegosiasi, dan akhirnya memutuskan sesuatu. Aku akui, Wali Songo telah memberikan banyak hal bagi pengalamanku berorganisasi, dan akhirnya aku berani berdiri dihadapan orang lain.***

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2012 in Perjalanan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: