RSS

Pertemuanku dengan Wali Songo

10 May

KH. Ibrahim Thoyyib

Wali Songo adalah sebuah nama Pesantren yang berlokasi di desa Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Orang tuaku, khususnya ibuku sangat mengharapkan agar aku belajar di Pesantren, bukan tradisional melainkan modern. Awalnya Gontor tujuannya, tetapi ternyata sudah tutup dan harus menunggu tahun depan jika ingin mendaftar. Akhirnya jatuhlah pilihan di Wali Songo, yang sistem pendidikannya juga tidak jauh berbeda dengan Gontor.

Pagi itu kami bergegas. Jam 6 saya, ibu dan bapakku sudah bersiap pergi. Tidak lupa kami berpamitan dengan adik, kakak, saudara, dan juga tetangga, karena aku menyadari akan pergi cukup jauh dan lama tidak akan bertemu dengan mereka. Tidak lupa sebelum pergi, aku menyempatkan diri mengirimkan fatehah, dan doa untuk kakekku.

Angkutan umum membawaku ke terminal Tirtonadi Solo, dan kemudian berlanjut ke Madiun. Sepanjang perjalanan, lamunanku melayang membayangkan suasana pesantren yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasa penasaran menggelayut, ingin rasanya cepat sampai. Setelah sampai di madiun kami pindah lagi menggunakan bis ke arah Ponorogo. Setelah kira-kira 2 jam, perjalanan kami sampai juga di terminal madiun, dan ternyata sudah ada panitia penerimaan santri baru yang siap menghantarkan calon santri sampai ke tempat lokasi, yaitu Ngabar.

Semakin dekat dengan Ngabar, penasaranku semakin menjadi. Akhirnya masuklah kami ke sebuah gerbang berwarna merah bertuliskan “Pondok Pesantren Wali Songo”. Pertama kali tiba di pondok, aku sangat terkejut dibuatnya. Ternyata suasananya sangat ramai, santri-santri berlalu lalang, dan akhirnya kamipun tiba ditempat pendaftaran untuk anak baru. Orang tuaku kemudian mendaftarkan diriku sebagai santri baru, dan setelah itu kami diminta pergi ke pengurus santri untuk mendapatkan kamar. Tidak lama setelah aku mendapatkan kamar, orang tuaku langsung berpamitan pulang, karena khawatir tidak mendapatkan angkutan umum untuk sampai rumah.

Akupun ditinggal sendirian, berpisah dengan orang tuaku. Setelah orang tuaku pergi, ternyata begitu banyak kebutuhan santri baru yang harus dipenuhi selain kamar. Aku belum punya lemari, kasur, seragam, buku, dan lain-lain. Karena banyaknya santri yang mendaftar, aku tidak kebagian lemari baru. Akhirnya akupun mencari lemari bekas yang dijual, dan saya pakai sampai lulus.

Kamar Osella, Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati

Pertemuan pertama dengan Wali Songo sangat sulit digambarkan. Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu, antara sedih, senang, gembira, was-was, dan lain-lain. Sedih karena harus berpisah dengan keluarga, mencuci sendiri, menyetrika sendiri, memenuhi segala kebutuhan sendiri. Makan dengan mengantri di dapur umum (aku tidak kebagian dapur keluarga) adalah hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, dan setelah mengantri cukup lama tidak jarang kehabisan sayur, lauk bahkan tidak kebagian nasi. Menangis di Masjid pada malam hari, adalah pekerjaanku setiap hari pada awal tinggal di Wali Songo. Selain ingat dengan rumah, ada saja kejadian-kejadian yang membuatku semakin sedih, sendal hilang, sepatu hilang, celana hilang, dan lain-lain. Pada saat itu aku merasakan, begitu penting dan berharganya orang tua dan keluarga, yang selalu hadir bersama kita.

Pada sisi lain aku juga merasa senang, karena banyak teman yang berasal dari berbagai daerah, dengan karakter dan budaya yang berbeda-beda. Mereka berasal dari seluruh nusantara, dari Sabang sampai Merouke.  Walaupun di pesantren, ternyata banyak sekali aktivitas-aktivitas untuk menyalurkan bakat dan minat setiap orang. Berbagai fasilitas olahraga tersedia, dari sepak bola, basket, badminton, dan bahkan sepak takraw. Berbagai aktivitas terkait dengan seni budaya juga banyak, ada drum band, klub musik, dan kegiatan seni lain yang menyenangkan. Pramuka adalah kegiatan wajib yang harus diikuti oleh semua santri. Berbagai kesibukan, dan kegiatan yang begitu banyak membuatku secara perlahan bisa menikmati, dan mengobati kesedihan.

Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Wali Songo. Wali Songo telah mengajarkanku tidak hanya pemahaman keagamaan, tetapi juga kemandirian, keberanian, kebebasan, kebersamaan, dan membekaliku dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan dengan kesungguhan dan keikhlasan, akan mendatangkan kebahagiaan. Rinduku untukmu Wali Songo, dan doaku selalu untukmu wali Songo. Berubahnya waktu dan keadaanmu, tidak akan pernah mengubah ikatan batinku dengan dirimu.***

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on May 10, 2012 in Perjalanan

 

3 responses to “Pertemuanku dengan Wali Songo

  1. Dheni Dhen

    September 29, 2013 at 8:38 am

    Assalamu,alaikum…ketika melihat gambar di depan sunan gunung jati, saya tahu itu teman-teman saya, kepada sobat yang memiliki blog ini saya ingin kembali menyambung tali silaturrahmi yang terputus. Tolong balas sobat.

     
  2. Abd Rohman Hakim

    September 1, 2014 at 7:13 am

    apa betul di foto tersebu ada yang namanya sodara yunus y mempunyai suara serak besar dia anak dia dr komesariat jakarta…..

     
  3. saipul

    May 27, 2015 at 2:37 pm

    Kangen pondok ngabar…

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: