RSS

Perjumpaanku dengan Ibu Anak-Anakku

10 May

Suatu sore, pada awal tahun 2004, hapeku berdering. Sebuah SMS masuk dari seorang teman yang tinggal di Semarang. Aku mengenal temanku itu, karena kami beraktivitas dalam organisasi kemahasiswaan yang sama. Dia memang memiliki rencana mengenalkanku dengan seseorang, yang katanya sudah siap menikah. “Umul minggu ini ke semarang, kamu bisa nggak ketemu dia Semarang”, begitulah kira-kira bunyi SMS itu. Akupun segera membalasnya, dan mengatakan aku akan ke Semarang akhir pekan.

Dalam urusan perjodohan, sepertinya aku masuk dalam kategori ‘primitif’, karena harus melalui wasilah (media) orang lain. Dengan semanat tinggi, akupun pergi ke Semarang untuk menemui seseorang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Kami bertemu di rumah temanku, dan dia mengenalkannya kepadaku. Namanya Umul Faridha. Dalam pertemuan itu, dia juga ditemani oleh seorang perempuan temannya. Kamipun saling mengenalkan diri, umur, asal-usul, dan kegiatan saat ini. Tidak banyak yang kami percakapkan, kecuali hal-hal yang umum saja. Percakapan itu berlangsung kurang lebih 30 menit, dan kami harus berhenti karena sudah masuk waktu sholat Dzuhur.

Setelah usai sholat dzuhur di Masjid, aku langsung berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Sebelum berpisah, kami hanya saling bertukar nomor HP yang bisa dihubungi. Setelah itu, akupun langsung kembali ke Jakarta dengan membawa impian, akankah dia menjadi istriku?. Beberapa hari setelah sampai di Jakarta, kamipun berkomunikasi melalui SMS. Walaupun percakapan kami hanya sejenak, tetapi keyakinanku melebihi segalanya, sehingga akupun akhirnya melamarnya melalui SMS. “Siap nggak kamu jadi istriku” itulah kira-kira sms yang aku kirimkan. Dia tidak langsung menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’. Percakapan melalui smspun bergulir membicarakan tentang konsep keluarga yang akan kami bangun. Sampai akhirnya dia mengirimkan sms “kapan kira-kira siap menikahi aku?”. Dengan tegas aku menjawab “paling lama 6 bulan”. Akupun menegaskan kembali, mau nggak dia menjadi istriku. Belum juga ada jawaban. Memang mungkin sudah tabiat perempuan, memang sulit mengatakan ‘iya’. Makanya muncul istilah dalam lamaran perkawinan, “diamnya adalah persetujuannya”. Dia menanyakan apa yang akan segera aku lakukan setelah ini. Kujawab dengan tegas, aku akan bersilaturrahmi dengan keluargamu, mengenalkan kamu dengan keluargaku. Setalah itu, kamipun selalu berkomunikasi jarak jauh, karena aku tinggal di Jakarta, dan dia sedang belajar di Pare, memperdalam bahasa Inggris.

Sejak perkenalan sampai hari H perkawinan, kami hanya bertemu 5 kali, dan tidak melebihi sesuai janjiku yang akan menikahinya paling lama dalam waktu 6 bulan. Pertemuan pertama di Semarang, pertemuan kedua aku bersilaturrahmi ke rumahnya di Batang Jawa Tengah, pertemuan ketiga dia ke rumahku di Boyolali dilanjutkan keluargaku datang ke rumahnya untuk lamaran, pertemuan keempat persiapan teknis pernikahan, dan pertemuan kelima kami sudah menjadi suami-istri. Memang singkat, tapi kami meyakini sebuah niat baik dan didasari keikhlasan, maka Allah akan memberikan yang terbaik. Mengenal segalanya satu sama lain sebelum pernikahan, bukanlah jaminan kelanggengan rumah tangga, sehingga lama sebentarnya perkenalan tidak berkorelasi dengan keberlangsungan rumah tangga.

Bagiku, keluarga adalah segalanya. Ya Allah Ridloi jalan kami, berhaki segala tindakan kami, dan lindungi orang-orang yang aku cintai. Mereka adalah impian dan pengharapanku. Kebahagian mereka adalah kebahagianku, dan kesusahan mereka, sudah pasti kesedihanku. Hanya Enkgaulah sang Penguasa yang dapat membolak-balikan hati dan perasaan seseorang.***

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on May 10, 2012 in Keluarga

 

One response to “Perjumpaanku dengan Ibu Anak-Anakku

  1. umul farida

    May 16, 2012 at 2:35 pm

    Asslamualaikum wr wb,Membaca ini sungguh ibu sangat bersyukur kepada Allah SWT, telah mempertemukan ibu sama bapak… suami yang sungguh bertanggungjawab, pengertian,dan lembut memperlakukan istri…Sosok bapak sungguh bijaksana..penuh dedikasi kepada anak-anak..Terimakasih telah memilihku menjadi teman hidupmu… I love u so much..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: